Sabtu, 22 Mei 2010
Kamis, 17 Desember 2009
Selasa, 17 November 2009
MARKETING (as a simple ilustration)

Our life is never apart from buying and selling process, because when we wake up from sleep what we enjoy is that all around us because of one thing, Sale and Purchase. Let's see, beds, sheets, pillows, bolsters, and holster, soap, toothpaste, towels and even the windows and doors of our house there because the Sale and Purchase. But let's see, the parents, how many of those who want their children involved in the marketing profession, a profession which is the core job is to sell.
When a person is an adult and then came a time he was married, then he should be fully responsible for themselves and their families. The material is no longer the responsibility of parents. So there also began the first steps of how each person needed to survive fighting for his life. life is sweet, but not always beautiful. Often there are distractions that cause the comforts of life, like a ship that was sailing the sea and attacked the storm. Often the storm caused financial problems.
When financial problems come, they try to find alternative solutions how to increase revenue. In a short time his wife began to emerge as a marketing force. wives who usually secure peace in the kitchen, suddenly selling a shamelessly out of the house offers a variety of merchandise ranging from food, clothing and so on.
In a desperate situation everyone thinks the same. "Sell". Sold everything from used goods to new goods.
Then why the young to feel embarrassed or proud to learn to be marketing, or sales .. ? hear how their view, some say "why should work there just for sales". or "I want to work but not working in the field of marketing". When asked why he replied "I can not communicate well, while the marketing must be able to communicate with others". Or "if sales do not know where to offer". Why wait urge to learn? whereas strong marketing takes time, a process needs a smooth talker. Marketing is also a tough negotiator who could read a large market demand and sensitive in reading the needs of consumers.
Indonesia requires labor negotiator at the international level. Especially in the face of the developed countries far ahead. Why marketing is not used as a university for prospective negotiators. See the big businessmen, they started as a seller, until finally he could be anything, ranging from simple things, "Sell".
How to learn the most simple is, see how the traditional market traders prepare themselves before they trade. A lot of different things all have to be sold in a short time. Traditional market hours are usually open from 06.00 am and ended at 11:00 noon. Even so see how they prepare merchandise. Vegetable traders generally had since arrived at 01.00 this morning with vegetables and some have started since 4 am, one day before their goods are ready. Stores are busy wrapping sugar, flour, etc. because in between the hours of 04.00 pm, 05.00 hours the next morning had started to open stores. 06.00 am buyers began arriving. The most crowded starting at 7:00 am to 10:00 am surrounded by a buyer market traders.
Almost all traditional market traders in school only until high school, but they can become rich and go to Saudi Arabia several times, while many of the younger generation of highly educated still busy complaining can not work and busy waiting without doing anything. And if they want to try, they can create their own jobs and then became manager for themselves. Wherever we work will always meet with the same principle that is the principle of management, planning, organizing, directing, coordinating, and also not forget that factor is no less important oversight. Similarly, we see on the way to work without their traditional merchants realize they've done the work in accordance with the principles of management.
Within 3 hours of a grocery store should be able to serve so many visitors to quickly improve in providing goods and count the money, since the middle of the night vegetable traders have started to come and begin to manage more than twenty kinds of vegetables in the store. Grocery store since the evening has started to weigh sugar flour cooking oil in various sizes, then put it in certain places, easily accessible in accordance with the needs of most people every day. They all work more than 8 hours a day.
In other words sell not only sells, it means that not only have our merchandise and shout to the buyer to buy our merchandise. But the success of a seller must begin with the preparation. Success does not just come, but success will come to us if we want to prepare ourselves for success. Including success in sales as the marketing.
Jumat, 18 September 2009
Untuk Teman, Sahabat dan Saudaraku seiman yang terkasih
tanpa terasa hari demi hari kita lalui
dalam perjalanan panjang kehidupan kita
Ada saat kita saling bersisian
Namun tak jarang kita saling bertentangan
Kadang ada nada yang sumbang terdengar
kadang seutas kata bermakna menjadi bara
Karna itu di Hari Yang Penuh Rahmat
Saat rampung nya ibadah puasa Ramadhan
Mari kita sempurnakan ibadah kita
Dengan Ungkapan tulus dari lubuk hati yang terdalam
Minal Aidin Wal faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Minggu, 26 Juli 2009
"ASTAGHFIRULLAH"
Buntut Anakku sakit kemarin, aku dapat peringatan keras dari Boss di kantor karna katanya aku tidak pernah datang. Aku tanya "Bapak tau ga anakku sakit masuk rumah sakit, kemarin aku udah lapor ke Supervisor"
jawabnya , "Oh Supervisor kamu ga bilang".
aku jawab lagi " Saya sms sampai 3 kali kesemua no yang dia punya dan saya sudah kasih tau bahwa anak saya di rawat".
"Kamu kenapa ga datang kasih tau ke kantor katanya"
terus dia jawab lagi " Pokoknya kalau kamu bulan ini tidak mencapai target kamu DO dan semua kuitansi akan saya tarik "
Saya jawab " Silakan pak, tidak terputus rejeki saya karna perusahaan ini ".
Waktu dia ancam aku tadi. aku ngebayangin di depanku ada Tentara Jepang yang lagi menghunus bayonet kearahku. aku tinggalkan dia sambil mengusap dadaku "ASTAGFIRRULLAH"
Dari semua buku yang aku baca ada banyak cara orang membangun motivasi bekerja, setahuku membangun motivasi bekerja dengan ancaman tidak ada di buku manapun. Membangun motivasi yang terbaik yang dapat menghadirkan energy dalam bekerja bukan dengan ancaman tetapi dengan dorongan semangat, dan punishment hanya berlaku bagi para pembuat kesalahan.
Yang aku alami adalah musibah bukan kesalahan, tapi rupanya mungkin atasan ku itu dibesarkan dibawah ancaman jadi yang dia tahu hanya bagaimana mengancam orang.
Beratus-ratus tahun yang lalu Indonesia pernah mengalami penjajahan oleh Belanda disusul dengan Jepang. Bangsa kita pernah dipaksa bekerja dibawah tudingan senjata kalau tidak kerja ditembak dor!...dor...dor...
Kebanyakan pekerja kita memang seperti itu, coba tengok kuli atau tukang yang kerja sebentar bolak balik istirahat, atau coba lihat suster-suster di rumah sakit pemerintah. Pernah suatu malam saat anakku masih dirawat, ada pasien anak2 yang menangis2 tengah malam, Aku mengusap dada sambil mengguman "ASTAGHFIRULLAH"
Karna orang tuanya yang nunggu rupanya kebingungan menghadapi anaknya maka jadilah anak itu di oper-oper dari bapaknya ke ibunya pindah lagi ibunya kesal anaknya ga berhenti nangis muka anak itu dipukul bapak nya, eh bukan malah berhenti nangis malah tambah keras nangisnya, datang ibunya bapaknya di marahi oleh bapak anak itu, kesal dimarahi istrinya, bapak itu pun menampar ibu anak itu, kesal ditampar bapaknya ibunya ambil sapu rumah sakit Bapak itu pun dipukul oleh istrinya. Datanglah kami para penunggu pasien melerai kedua suami istri itu, Aku datang bawa biscuit untuk anaknya dan cream penghilang rasa lelah yang biasa aku pakai kalau ga bisa tidur kelelahan. Anak itu akhirnya diam sambil makan biscuit pemberian ku lalu ku olesi cream penghilang rasa lelah dikakinya sambil ku perhatikan kenapa anak itu nangis.
O... rupanya anak itu infusnya sudah habis dan darah mengalir naik ke pipa infus, mungkin terasa ga nyaman. Aku segera keruang suster untuk membangunkan suster, Suster keluar dengan wajah bak penunggu kuburan rambutnya berdiri semua dan wajah masam, Di hampiri kamar pasien dan aku diusir suruh balik keruangan kulihat dia bicara dengan orang tua anak kecil itu, lalu tanpa menoleh tiang infus diseret sampai tertarik menegang dia tidak perhatikan bahwa ibu anak itu belum jalan menggendong anakknya, karna jarum infus ketarik pipa yang menegang tadi anak itupun menjerit kesakitan. aku buru2 lari menahan suster yang jalan nya kecepatan itu dan mengingatkan bahwa anak beserta ibunya masih belum jalan. Sekali lagi aku mengusap dada "ASTAGHFIRULLAH! "
Sebuah perilaku pekerja yang biasa dijajah, heran aku, apa ga ada jadwal bekerja jam berapa aja pasien perlu ditengok, terus apa gunanya setiap pasien punya status. Kalau pagi aku lihat suster2 itu sibuk bikin laporan, entah apa laporan yang dibuat memang ga ada tercantum di laporan itu kondisi pengobatan pasien. Kalau ada mestinya mereka bekerja lebih teliti memperhatikan apalagi kebanyakan yang dirawati disitu sebagian besar adalah balita. sekali lagi aku mengusap dada "ASTAGHFIRRULLAH!".
Kamis, 12 Maret 2009
4 tipe manusia hadapi keadaan
“Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh” (John Gray)
Pembaca, hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih,hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan.
Nah, tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian hari. Pembaca, pada kesempatan ini, saya akan memaparkan empat tipe orang dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut. Mari kita bahas satu demi satu tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup ini.
Tipe pertama, tipe kayu rapuh. Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada
saat kesulitan terjadi.
Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan hidup.
Majalah Time pernah menyajikan topik generasi kepompong (cacoon generation). Time mengambil contoh di Jepang, di mana banyak orang menjadi sangat lembek karena tidak terbiasa menghadapi kesulitan. Menghadapi orang macam ini, kadang kita harus lebih berani tega. Sesekali mereka perlu belajar dilatih menghadapi kesulitan. Posisikan kita sebagai pendamping mereka.
Tipe kedua, tipe lempeng besi. Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan
tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut.
Tambahan tekanan sedikit saja, membuat mereka menyerah dan putus asa. Untungnya, orang tipe ini masih mau mencoba bertahan sebelum akhirnya menyerah. Tipe lempeng besi memang masih belum terlatih. Tapi, kalau
mau berusaha, orang ini akan mampu membangun kesuksesan dalam hidupnya.
Tipe ketiga, tipe kapas. Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah Anda menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi.
Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu, dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera melupakan masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai lagi.
Tipe keempat, tipe manusia bola pingpong. Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat. Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya.
Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah, sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat
finansial yang diharapkannya. Hal ini pernah terjadi dengan seorang kepala regional sales yang performance- nya bagus sekali.
Bangun network
Tetapi, hasilnya ini membuat atasannya tidak suka. Akibatnya, justru dengan sengaja atasannya yang kurang suka kepadanya memindahkannya ke daerah yang lebih parah kondisinya. Tetapi, bukannya mengeluh seperti
rekan sebelumnya di daerah tersebut. Malahan, ia berusaha membangun netwok, mengubah cara kerja, dan membereskan organisasi. Di tahun kedua di daerah tersebut, justru tempatnya berhasil masuk dalam daerah tiga top sales.
Contoh lain adalah novelis dunia Fyodor Mikhailovich Dostoevsky. Pada musim dingin, ia meringkuk di dalam penjara dengan deraan angin dingin, lantai penuh kotoran seinci tebalnya, dan kerja paksa tiap hari. Ia mirip ikan herring dalam kaleng. Namun, Siberia yang beku tidak berhasil membungkam kreativitasnya.
Dari sanalah ia melahirkan karya-karya tulis besar, seperti The Double dan Notes of The Dead. Ia menjadi sastrawan dunia. Hal ini juga dialami Ho Chi Minh. Orang Vietnam yang biasa dipanggil Paman Ho
ini harus meringkuk dalam penjara. Tapi, penjara tidaklah membuat dirinya patah arang. Ia berjuang dengan puisi-puisi yang ia tulis. A Comrade Paper Blanket menjadi buah karya kondangnya.
Nah, pembaca, itu hanya contoh kecil. Yang penting sekarang adalah Anda. Ketika Anda menghadapi kesulitan, seperti apakah diri Anda? Bagaimana reaksi Anda? Tidak menjadi persoalan di mana Anda saat ini.
Tetapi, yang penting bergeraklah dari level tipe kayu rapuh ke tipe selanjutnya. Hingga akhirnya, bangun mental Anda hingga ke level bola pingpong. Saat itulah, kesulitan dan tantangan tidak lagi menjadi
suatu yang mencemaskan untuk Anda. Sekuat itukah mental Anda?
Sumber: 4 Tipe Manusia Hadapi Tekanan Hidup oleh Anthony Dio Martin
BERGERAK
“Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan). ”
Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya, “ChaNge”. Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Ditengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu. “Silahkan, siapa yang mau boleh ambil,” ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.
Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.
Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.
Saya ulangi pesan Saya, “Silahkan ambil, silahkan ambil.” Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak, “Kembalikan, kembalikan!” Saya mengatakan, “Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya.”
Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak. Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan? Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:
“Saya pikir Bapak cuma main-main ………… ”
“Nanti uangnya toh diambil lagi.”
“Malu-maluin aja.”
“Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!”
“Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu …..”
“Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya. …”
“Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas…..”
“Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang……. ..”
“Saya, kan duduk jauh di belakang…”
dan seterusnya.
Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan) , tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah. Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa
depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras. Ia bisa menilai “gila” nya orang di sana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasa sama dengan mereka, ia pun protes. “Gila aja….ini kan gara-gara saudara-saudara Saya tidak mau mengurus Saya. Saya ini tidak gila.
Mereka itu semua sakit…..”. Lantas, apa yang kamu maksud ’sakit’?”
“Orang ’sakit’ (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan Saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu
mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari…..,” katanya penuh semangat.” Saya pun mengangguk-angguk.
Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari, Jadi omong kosong perubahan akan datang.
Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.
Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak. Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik. Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinny a hanya berwacana saja. Wacana yang kosong akan destruktif.
“Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya.”
Get Started. Get into the game. Get into the playing field, Now. Just do it!
“Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja.”
Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural. Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.
Manusia pemenang adalah manusia yang responsif. Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah :
“Winners take action…they simply get up and do what has to be done…”.
Selamat bergerak!
Rhenald Kasali






